lingerine ahli bercinta

Seks Dengan Gairah Seksual Bisa Menguatkan Otot Jantung

Tidak dipungkiri bahwa bertambahnya usia pernikahan menjadikan seks sebagai kegiatan pelengkap yaitu rutinitas hubungan seks diperlukan, tetapi kalaupun tidak dilakukan tidak masalah. Padahal mendapatkan kenikmatan seks bermanfaat untuk keharmonisan dan juga
untuk menguatkan otot jantung.

Kenikmatan seks tidak bisa didapatkan begitu saja apabila tidak ada hasrat dan gairah untuk  melakukannya. Secara biologis penurunan gairah seksual pada pria dan wanita pada usia pernikahan ke-15 ke atas dianggap wajar, hal ini tentu disebabkan oleh menurunnya hormon penambah gairah seksual (hormon testosteron). Penurunan ini bisa disebabkan berbagai sebab.

Bandingkan dengan kondisi pernikahan anda di awal-awal bulan madu, gairah dan birahi menghiasi dinding-dinding kamar. Bahkan 3 malam berturut-turut masih sempat saja meraih  puncak kenikmatan hubungan intim.

Seorang spesialis terapi seks era-70an Amerika dr. Dawn Michael menjelaskan bahwa ketika pasangan hanya bercinta karena merasa harus elakukannya atau menganggapnya sebagai tugas, akan membuat pasangan tersebut merasakan ketidakpuasan. Lebih buruknya pasangan bisa cari  jalan pintas selingkuh dan cerai jangka panjangnya.

Pada tahun 1976 ada penelitian yang dipublikasikan di sychosomatic Medicine membuktikan ucapan dari dr. Michael. Menurut penelitian tersebut, saat wanita dewasa mendapatkan puncak kenikmatan seksual karena terpaksa (undpresure) hal ini dapat berdampak buruk pada
kesehatan jantungnya. Aktifitas seksual ternyata bukan hanya penetrasi dan mencapai puncak  kenikmatan bersamaan tetapi dibutuhkan “passion” atau gairah seks untuk meraihnya.

Berhubungan seks dengan hasrat dan gairah memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan jantung layaknya orang melakukan jalan cepat ataupun jogging. Terlebih-lebih pada saat ledakan orgasme terjadi, jantung bisa berdetak hingga 110 kali per menit.

Seorang psikiatris populer dr. Daniel G. Amen, M.D, menguatkan  pentingnya gairah dan hasrat yang ia catatkan dalam buku larisnya “The Brain In Love”. Buku ini seperti jurnal penelitian yang disajikan dengan gaya populer. Buku ini mengungkapkan hasil penelitidannya di Swedia yang menyebutkan adanya peningkatan resiko kematian pada pria yang berhenti bercinta lebih cepat. Penelitian mengambil sample secara acak terhdapa 400 pria dan wanita berumur 70-an. Pada usia tersebut mereka disurvai aktifitas eksualnya dan dengan survai berekelanjutan. Setelah lima tahun berikutnya, survai tersebut membuahkan kesimpulan bahwa
resiko kematian lebih tinggi pada pria yang aktifitas seksnya berhenti lebih cepat.

Berhubungan seks dengan gairah dan hasrat bersama pasangan itu penting dalam menjalani lika-liku kehidupan. Seks juga bermanfaat untuk menurunkan stress, dan memberikan rasa tenang. Selain itu seks juga berguna untuk lebih merekatkan hubungan suami istri dari hari ke hari.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s